RDMP Balikpapan Percepat Produksi BBM Euro 5 dan Penguatan Petrokimia Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 10:12:40 WIB
RDMP Balikpapan Percepat Produksi BBM Euro 5 dan Penguatan Petrokimia Nasional

JAKARTA - Transformasi industri pengolahan minyak nasional memasuki babak baru seiring kehadiran Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan.

Proyek ini tidak sekadar memperluas kapasitas kilang, tetapi juga mengubah wajah Kilang Pertamina Balikpapan menjadi fasilitas pengolahan modern dengan standar kelas dunia. Di balik proyek bernilai ratusan triliun rupiah tersebut, Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex tampil sebagai komponen utama yang mendorong lompatan teknologi dan kualitas produk energi Indonesia.

RFCC Complex Jadi Jantung Pengolahan Baru

RFCC Complex dirancang sebagai unit pengolahan strategis yang mampu mengoptimalkan residu minyak mentah yang sebelumnya sulit dimanfaatkan. Dengan teknologi ini, residu diolah menjadi produk bernilai tinggi, baik untuk kebutuhan bahan bakar maupun petrokimia. Kehadiran fasilitas ini menjadikan Kilang Balikpapan tidak lagi sebatas produsen BBM konvensional, melainkan pusat pengolahan terintegrasi dengan output beragam.

RFCC Complex sekaligus menandai lompatan besar modernisasi Kilang Pertamina menuju standar kilang kelas dunia, sejalan dengan penguatan ketahanan energi nasional.

Produksi BBM Setara Standar Euro 5

Dengan beroperasinya RFCC Complex, Kilang Balikpapan kini mampu memproduksi bahan bakar berkualitas tinggi setara standar Euro 5. Standar ini dikenal lebih ramah lingkungan karena memiliki kandungan sulfur yang sangat rendah, sehingga emisi gas buang kendaraan dapat ditekan secara signifikan.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menjelaskan peningkatan kualitas tersebut sebagai perubahan fundamental dalam pengolahan BBM nasional.

“Melalui RFCC Complex dan unit tambahan lainnya, Kilang Balikpapan mengalami peningkatan signifikan dari standar Euro 2 dengan kandungan sulfur 2.500 ppm menjadi standar Euro 5 dengan kandungan sulfur hanya 10 ppm,” kata Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron.

Peningkatan ini menjadi salah satu tonggak penting dalam upaya menghasilkan BBM yang lebih bersih dan sesuai dengan standar global.

Kilang Mampu Hasilkan Produk Petrokimia

Selain BBM, Kilang Balikpapan juga kini mampu memproduksi produk petrokimia seperti propylene dan sulfur. Diversifikasi produk ini memperluas peran kilang dalam rantai industri energi dan petrokimia nasional. Tidak hanya melayani kebutuhan energi, kilang juga berkontribusi terhadap bahan baku industri manufaktur.

“Selain itu, Kilang Balikpapan akan mampu menghasilkan produk petrokimia. Ini merupakan lompatan besar dalam peningkatan kualitas BBM nasional, dengan kapasitas kilang mencapai 360 ribu barel per hari,” ujar Baron.

Kapasitas tersebut menjadikan Kilang Balikpapan sebagai salah satu kilang dengan kemampuan pengolahan terbesar di Indonesia.

Proyek Modernisasi Terbesar di Indonesia

Baron menegaskan bahwa RDMP Balikpapan merupakan proyek modernisasi kilang terbesar yang pernah dijalankan di Indonesia. Skala proyek ini mencerminkan komitmen Pertamina dan pemerintah dalam membangun fondasi energi nasional yang tangguh, efisien, dan berkelanjutan.

Dengan modernisasi ini, kilang tidak hanya menghasilkan bensin dan solar, tetapi juga mampu menambah produksi LPG serta menghasilkan produk petrokimia yang sebelumnya belum dapat diproduksi di fasilitas tersebut.

Tambahan Produksi LPG Kurangi Impor

Salah satu dampak langsung dari beroperasinya RFCC Complex adalah meningkatnya produksi LPG. Penambahan produksi ini dinilai strategis dalam memperkuat pasokan energi domestik dan menekan ketergantungan terhadap impor.

“Penambahan produksi LPG dari Kilang Balikpapan diperkirakan mencapai 336 ribu ton per tahun, sehingga memperkuat pasokan LPG domestik dan secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap impor,” jelas Baron.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya jangka panjang pemerintah dan Pertamina dalam memperkuat kemandirian energi nasional.

Nilai Tambah dari Pengolahan Residu

RFCC Complex juga memungkinkan pengolahan minyak residu yang sebelumnya sulit diolah menjadi produk bernilai tinggi seperti nafta dan propylene. Inovasi ini meningkatkan nilai ekonomi kilang sekaligus memperluas kontribusi Kilang Balikpapan dalam rantai industri energi dan petrokimia nasional.

Pengolahan residu secara optimal tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga memperbesar margin ekonomi dari setiap barel minyak yang diolah.

Kompleksitas dan Efisiensi Kilang Meningkat Tajam

Dari sisi kinerja, kompleksitas Kilang Balikpapan meningkat signifikan. Hal ini tercermin dari lonjakan Nelson Complexity Index (NCI) yang naik dari 3,7 menjadi 8,0. Semakin tinggi NCI menunjukkan kilang memiliki kemampuan pengolahan yang lebih kompleks dan menghasilkan produk bernilai tinggi.

Selain itu, Yield Valuable Product (YVP) atau imbal hasil produk bernilai meningkat dari 75,3% menjadi 91,8 persen, atau naik sekitar 16%. Capaian ini menegaskan efisiensi operasional kilang yang semakin kompetitif di tingkat global.

“RFCC Complex menjadi simbol kesiapan Pertamina menyongsong era baru pengolahan kilang modern, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap swasembada energi nasional sebagaimana diamanatkan dalam Asta Cita Pemerintah,” tandas Baron.

Diresmikan Presiden Prabowo

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan meresmikan megaproyek RDMP Balikpapan pada Senin, 12 Januari 2025. PT Pertamina (Persero) mencatat nilai investasi megaproyek penyulingan minyak mentah ini mencapai Rp123 triliun.

Proyek yang dimulai sejak 2019 tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas pengolahan sekaligus memperkuat infrastruktur penerimaan minyak mentah. Dalam pengembangannya, Pertamina memodernisasi kilang eksisting melalui pembangunan 21 unit proses baru dan 13 unit utilitas pendukung. Selain itu, empat unit utama pengolahan direvitalisasi untuk meningkatkan fleksibilitas dan keandalan operasional kilang.

Terkini