Vitamin D

Sering Sakit Tanpa Sebab Jelas? Peran Vitamin D dalam Menjaga Imunitas Tubuh

Sering Sakit Tanpa Sebab Jelas? Peran Vitamin D dalam Menjaga Imunitas Tubuh
Sering Sakit Tanpa Sebab Jelas? Peran Vitamin D dalam Menjaga Imunitas Tubuh

JAKARTA – Tidak sedikit orang merasa sudah menjaga pola makan dan istirahat, tetapi tubuh tetap mudah terserang flu, pilek, atau infeksi berulang. Situasi ini sering menimbulkan pertanyaan karena di saat yang sama, orang lain di sekitar tampak lebih jarang jatuh sakit.

Kondisi tersebut ternyata bisa berkaitan dengan kadar vitamin D di dalam tubuh. Nutrisi ini memiliki peran penting dalam menjaga daya tahan tubuh agar mampu melawan berbagai ancaman penyakit.

Vitamin D dikenal luas karena manfaatnya bagi kesehatan tulang. Namun, fungsinya tidak berhenti di situ karena vitamin ini juga berperan besar dalam sistem kekebalan tubuh.

Jika asupan vitamin D tidak tercukupi, tubuh berpotensi menjadi lebih rentan terhadap infeksi. Hal ini dapat memengaruhi kemampuan sistem imun dalam merespons bakteri dan virus.

Kebutuhan vitamin D sebenarnya dapat diperoleh dari beberapa sumber. Makanan, paparan sinar matahari, serta suplemen menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan harian.

Namun, dalam praktiknya, tidak semua orang mampu memenuhi kebutuhan tersebut secara optimal. Gaya hidup, lokasi geografis, dan kebiasaan sehari-hari turut memengaruhi kecukupan vitamin D.

Kekurangan vitamin D sering kali tidak disadari karena gejalanya tidak selalu muncul secara spesifik. Akibatnya, kondisi ini baru diketahui ketika daya tahan tubuh mulai menurun.

Vitamin D dan Hubungannya dengan Sistem Kekebalan Tubuh

Peran vitamin D dalam sistem imun telah lama menjadi perhatian para ahli. Nutrisi ini diketahui membantu mengatur respons kekebalan bawaan maupun adaptif.

Dr. Michael Holick, profesor bidang kedokteran, farmakologi, fisiologi, dan biologi molekuler di Boston University Chobanian & Avedisian School of Medicine, menegaskan pentingnya vitamin ini. “Kami tahu vitamin D memainkan peran yang sangat penting dalam mengendalikan sistem kekebalan adaptif maupun bawaan,” katanya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa vitamin D bukan sekadar pelengkap nutrisi. Vitamin ini berkontribusi langsung terhadap cara tubuh melawan infeksi.

Sistem imun yang bekerja optimal membutuhkan dukungan berbagai zat gizi. Vitamin D menjadi salah satu komponen penting dalam proses tersebut.

Tanpa kadar vitamin D yang memadai, sistem kekebalan tubuh bisa bekerja kurang efektif. Hal ini membuat tubuh lebih mudah terpapar penyakit.

Kondisi ini sering kali diperparah pada musim hujan atau cuaca dingin. Pada situasi tersebut, risiko infeksi pernapasan cenderung meningkat.

Paparan sinar matahari yang berkurang juga dapat memengaruhi produksi vitamin D alami di dalam tubuh. Akibatnya, banyak orang tidak menyadari bahwa tubuhnya mengalami kekurangan nutrisi ini.

Risiko Penyakit Pernapasan Saat Kadar Vitamin D Rendah

Pandangan serupa disampaikan oleh Diane Stadler, direktur program pascasarjana nutrisi manusia di Oregon Health & Science University. Ia menilai ada hubungan kuat antara kadar vitamin D yang rendah dengan meningkatnya risiko penyakit pernapasan.

Stadler menyebut bahwa berbagai penelitian telah menyoroti kaitan tersebut. Hal ini memperkuat peran vitamin D dalam menjaga kesehatan sistem pernapasan.

“Banyak bukti atau studi yang mengaitkan kekurangan vitamin D, atau kadar vitamin D darah yang rendah, dengan peningkatan risiko penyakit pernapasan dan berbagai jenis infeksi bakteri,” kata Stadler.

Temuan ini menunjukkan bahwa vitamin D berperan lebih luas dari yang selama ini dipahami. Risiko infeksi bakteri dan virus dapat meningkat saat kadarnya tidak mencukupi.

Meski begitu, Stadler menekankan bahwa kekurangan vitamin D bukan penyebab langsung seseorang jatuh sakit. Penyakit biasanya muncul karena sistem imun tidak mampu merespons ancaman secara optimal.

Ia menjelaskan bahwa vitamin D bekerja dengan berbagai mekanisme dalam tubuh. Mekanisme tersebut membantu memperkuat respons kekebalan terhadap patogen.

“Vitamin D bekerja dengan beberapa cara untuk meningkatkan respons kekebalan tubuh. Jika kadarnya tidak mencukupi, sistem imun tidak akan bekerja secara efektif dalam melawan infeksi bakteri maupun virus, terutama pada cuaca dingin,” jelasnya.

Penjelasan ini menegaskan bahwa vitamin D berperan sebagai pendukung kinerja sistem imun. Tanpa dukungan tersebut, tubuh menjadi kurang tangguh menghadapi infeksi.

Kondisi ini sering kali terlihat pada individu yang jarang terpapar sinar matahari. Aktivitas di dalam ruangan dalam waktu lama turut meningkatkan risiko kekurangan vitamin D.

Dampak Kekurangan Vitamin D terhadap Risiko COVID-19

Ketika kadar vitamin D tidak memadai, tubuh menjadi kurang efisien melawan ancaman penyakit. Hal ini termasuk penyakit infeksi seperti flu dan COVID-19.

Penelitian yang dilakukan Holick di Boston University menemukan temuan penting. Orang dengan kadar vitamin D rendah memiliki risiko kematian dan komplikasi akibat COVID-19 yang lebih tinggi.

Temuan ini menambah perhatian terhadap peran vitamin D selama pandemi. Kekurangan nutrisi ini dianggap dapat memperburuk kondisi pasien.

Selain itu, studi lain juga menunjukkan risiko penularan yang lebih besar. Individu dengan kadar vitamin D rendah memiliki risiko 54 persen lebih tinggi tertular COVID-19.

Angka tersebut menunjukkan perbedaan yang signifikan. Kondisi ini memperlihatkan betapa pentingnya menjaga kadar vitamin D dalam batas normal.

Meski tidak bisa mencegah infeksi secara mutlak, vitamin D membantu tubuh merespons lebih baik. Sistem imun yang kuat berperan besar dalam mengurangi risiko komplikasi.

Temuan-temuan tersebut memperkuat pandangan bahwa vitamin D berperan dalam daya tahan tubuh. Upaya menjaga kecukupan nutrisi ini menjadi bagian penting dari pencegahan penyakit.

Hal ini terutama relevan saat risiko penyakit infeksi meningkat. Musim hujan atau perubahan cuaca sering kali menjadi pemicu meningkatnya kasus penyakit pernapasan.

Menjaga kadar vitamin D dapat dilakukan melalui berbagai cara. Paparan sinar matahari pagi menjadi salah satu metode yang umum disarankan.

Selain itu, asupan makanan yang mengandung vitamin D juga perlu diperhatikan. Dalam beberapa kondisi, suplemen dapat menjadi pilihan tambahan.

Namun, pemenuhan kebutuhan vitamin D sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. Konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan kebutuhan yang tepat.

Kesadaran akan pentingnya vitamin D menjadi langkah awal menjaga kesehatan. Dengan kadar yang cukup, sistem imun memiliki peluang lebih besar untuk bekerja optimal.

Pada akhirnya, vitamin D bukan satu-satunya faktor penentu kesehatan. Namun, menjaga kecukupannya dapat membantu tubuh lebih siap menghadapi berbagai ancaman penyakit.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index