Investasi Minerba

Investasi Minerba Melonjak, Hilirisasi Jadi Motor Baru Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Investasi Minerba Melonjak, Hilirisasi Jadi Motor Baru Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Investasi Minerba Melonjak, Hilirisasi Jadi Motor Baru Pertumbuhan Ekonomi NasionalJAKARTA -

JAKARTA - Dorongan pemerintah untuk memperkuat industri berbasis sumber daya alam kini semakin terasa melalui akselerasi investasi di sektor mineral dan batu bara. Di tengah kebutuhan global terhadap bahan baku energi dan manufaktur, sektor ini dinilai menjadi tulang punggung transformasi ekonomi Indonesia.

Langkah strategis tersebut tercermin dari meningkatnya realisasi investasi yang terus dicatat setiap tahun. Perusahaan-perusahaan pertambangan pun berlomba mempercepat pembangunan proyek hilirisasi agar nilai tambah sumber daya alam dapat segera dinikmati di dalam negeri.

Sektor mineral dan batu bara terus berkontribusi bagi peningkatan investasi dan pertumbuhan ekonomi nasional. Perusahaan-perusahaan pertambangan terus mengejar target pembangunan dan pengoperasian proyek strategis hilirisasi, guna memastikan investasi yang dikeluarkan mampu segera menciptakan produk bahan baku yang mendukung transformasi industri Indonesia.

Laporan capaian kinerja Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi investasi sektor mineral dan batu bara (minerba) menyentuh angka US$6,7 miliar, didorong oleh penyelesaian sejumlah proyek strategis nasional. Capaian ini menegaskan posisi sektor minerba sebagai salah satu motor utama investasi nasional.

Angka tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan pelaku usaha terhadap arah kebijakan pemerintah. Selain itu, proyek-proyek yang berjalan juga memperlihatkan fokus kuat pada penguatan rantai nilai industri dalam negeri.

Adapun, proyek-proyek yang berkontribusi pada realisasi investasi sektor minerba pada 2025 seperti hilirisasi nikel dari Grup MIND ID yakni PT Vale Indonesia Tbk dengan tiga proyek Indonesia Growth Project (IGP) Sorowako Limonite, IGP Morowali, dan IGP Pomalaa yang terus dibangun. Ketiga proyek ini menjadi pilar penting dalam pengembangan ekosistem nikel nasional.

Investasi keseluruhan proyek yang diperkirakan mencapai US$8,7 miliar ini, menjadi penghubung bagi nikel Indonesia agar mampu menciptakan produk bahan baku yang siap mendukung berbagai industri termasuk industri baterai kendaraan listrik. Peran strategis nikel dalam rantai pasok energi bersih global semakin memperkuat urgensi proyek tersebut.

Hilirisasi Nikel dan Logam Jadi Prioritas

Selain proyek nikel PT Vale Indonesia Tbk, Grup MIND ID juga mengembangkan proyek strategis lain di sektor logam mulia. Proyek-proyek ini diarahkan untuk memperluas kapasitas pemurnian dalam negeri sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil tambang.

Selanjutnya ada proyek Grup MIND ID PT Freeport Indonesia yakni pabrik pemurnian logam mulia atau precious metal refinery (PMR) dengan nilai investasi keseluruhan mencapai US$630 juta di Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur. Proyek strategis ini, menjadi bagian dari program hilirisasi untuk mengolah anoda slime menjadi precious metal seperti emas dan perak.

Keberadaan PMR ini diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia dalam industri pemurnian logam mulia global. Selain meningkatkan ekspor produk bernilai tinggi, proyek ini juga mendorong terbentuknya industri turunan berbasis logam mulia.

Selanjutnya, ada juga proyek Grup MIND ID Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan investasi US$900 juta. Proyek yang beroperasi pada 2025 ini menjadi penghubung rantai pasok hilirisasi bauksit, alumina dan aluminium Indonesia.

Dengan beroperasinya SGAR, Indonesia semakin memperkuat rantai pasok aluminium nasional dari hulu hingga hilir. Langkah ini juga mengurangi ketergantungan impor bahan baku sekaligus meningkatkan daya saing industri manufaktur domestik.

Selain proyek-proyek milik BUMN, sektor swasta juga turut memperkuat investasi minerba nasional. Kehadiran investor swasta memperlihatkan bahwa iklim investasi sektor pertambangan masih menarik dan kompetitif.

Selain dari Grup MIND ID, sektor swasta juga memberi kontribusi pada peningkatan investasi minerba nasional. Pabrik PT Solder Tin Andalan Indonesia (STANIA) di Kawasan Industri Tunas Prima, Batam yang diresmikan Juli 2025 ini bernilai Rp400 miliar.

Investasi tersebut diarahkan untuk memperkuat industri hilir timah nasional. Produk hasil pengolahan timah diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus memperluas ekspor bernilai tambah.

Selanjutnya, ada pula peresmian pabrik hilirisasi timah milik PT Batam Timah Sinergi (BTS) di Kawasan Industri Sei Lekop, Batam dengan nilai investasi sebesar Rp1 triliun. Proyek ini mengolah timah menjadi berbagai produk bahan baku industri seperti Stannic Chloride, Dimethyl Tin Dichloride (DMCTL), dan Methyl Tin Mercaptide.

Keberadaan pabrik tersebut menunjukkan semakin luasnya spektrum produk turunan hasil tambang di Indonesia. Hal ini menjadi bukti konkret bahwa hilirisasi tidak hanya berhenti pada pemurnian dasar, tetapi juga merambah ke produk kimia industri bernilai tinggi.

Hilirisasi Jadi Jawaban Tantangan Industri Nasional

Chairman Indonesia Mining Institute (IMI) Irwandi Arif mengatakan sejumlah investasi pada hilirisasi merupakan upaya sektor minerba nasional menjawab tantangan industri. Menurutnya, langkah tersebut penting agar Indonesia tidak lagi terjebak sebagai eksportir bahan mentah semata.

Menurutnya investasi dari sektor minerba mampu mendukung Indonesia untuk tidak lagi ekspor bahan mineral mentah, tetapi produk hilir dan downstream yang bernilai tambah tinggi. Investasi ini juga menjadi gerbang bagi Indonesia untuk meningkatkan perannya dalam mendukung transisi energi global.

“Kita punya tantangan mendasar, meningkatkan aktivitas eksplorasi untuk memastikan sustainability cadangan dan daya saing jangka panjang. Di sisi lain, demand akan sejumlah produk mineral kritis juga harus dimanfaatkan,” ujarnya saat dihubungi.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa investasi hilirisasi bukan hanya berorientasi jangka pendek, tetapi juga menyasar keberlanjutan sektor tambang nasional. Keseimbangan antara eksplorasi dan pengolahan menjadi kunci untuk menjaga pasokan bahan baku industri ke depan.

Irwandi menilai bahwa mineral kritis seperti nikel, bauksit, dan tembaga memiliki peran strategis dalam rantai pasok teknologi hijau global. Oleh karena itu, penguatan industri hilir menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk mengambil posisi penting dalam transisi energi dunia.

Selain itu, keberlanjutan eksplorasi dinilai penting agar cadangan mineral nasional tetap terjaga. Tanpa eksplorasi yang memadai, investasi hilirisasi berisiko menghadapi keterbatasan pasokan bahan baku di masa mendatang.

Tantangan dan Harapan ke Depan

Direktur Eksekutif Indonesia Mining and Energy Watch Ferdy Hasiman mengatakan capaian investasi 2025 diharapkan dapat dilanjutkan dan ditingkatkan pada tahun ini. Menurutnya, konsistensi kebijakan menjadi faktor penting untuk menjaga momentum pertumbuhan sektor minerba.

Kendati demikian, dia mengkhawatirkan sejumlah pengetatan produksi di sejumlah menjadi tantangan tersendiri. Pembatasan produksi tersebut dinilai dapat memengaruhi kinerja sektor minerba secara keseluruhan.

“Kita berharap ada investasi yang lebih besar supaya mendukung pertumbuhan dan peningkatan nilai tambah ekonomi yang ditargetkan pemerintah. Hanya saja, saya khawatir, pembatasan produksi dari pemerintah memengaruhi kinerja sektor minerba,” katanya.

Kekhawatiran tersebut mencerminkan pentingnya keseimbangan antara pengendalian produksi dan dorongan investasi. Jika tidak dikelola secara tepat, kebijakan pembatasan berpotensi mengurangi daya tarik sektor pertambangan di mata investor.

Kendati demikian, Ferdy berharap strategi pemerintah dengan membatasi produksi pertambangan juga mengerek harga komoditas. Selain itu, dirinya juga berharap sektor swasta juga menjadi penggerak investasi utama minerba.

Ia menilai peran sektor swasta sangat krusial untuk memperluas kapasitas industri hilir nasional. Dengan dukungan investasi swasta, target hilirisasi diharapkan dapat tercapai lebih cepat dan merata di berbagai wilayah.

Dalam konteks global, permintaan terhadap mineral kritis diproyeksikan terus meningkat seiring percepatan transisi energi. Hal ini membuka peluang besar bagi Indonesia sebagai salah satu negara dengan cadangan mineral yang melimpah.

Namun, peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan secara optimal jika didukung kebijakan yang konsisten dan ekosistem investasi yang kondusif. Kolaborasi antara pemerintah, BUMN, dan swasta menjadi kunci keberhasilan strategi hilirisasi nasional.

Ke depan, investasi minerba tidak hanya diharapkan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan mendorong pengembangan industri pendukung. Dampak berganda ini diharapkan mampu memperkuat struktur ekonomi nasional secara keseluruhan.

Selain itu, penguatan industri hilir di sektor minerba juga diharapkan meningkatkan ketahanan industri domestik terhadap fluktuasi harga komoditas global. Dengan produk bernilai tambah, Indonesia tidak lagi sepenuhnya bergantung pada ekspor bahan mentah.

Dengan demikian, investasi sektor mineral dan batu bara tidak hanya menjadi instrumen pertumbuhan ekonomi, tetapi juga bagian dari strategi besar transformasi industri nasional. Hilirisasi diposisikan sebagai jembatan menuju ekonomi yang lebih berdaya saing dan berkelanjutan.

Momentum peningkatan investasi saat ini menjadi peluang penting bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya di rantai pasok global. Jika dikelola dengan tepat, sektor minerba dapat menjadi motor penggerak utama menuju ekonomi berbasis nilai tambah tinggi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index