JAKARTA - Memasuki siklus musiman konsumsi terbesar di Indonesia, otoritas penjamin simpanan nasional menangkap sinyal positif dari pergerakan likuiditas perbankan.
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) secara optimis menyatakan bahwa LPS targetkan kredit bank tumbuh 12 persen di momentum Ramadhan 2026. Proyeksi pertumbuhan dua digit ini didasarkan pada ekspektasi lonjakan permintaan pembiayaan, baik di sektor korporasi maupun ritel, guna memenuhi kebutuhan stok barang dan konsumsi masyarakat yang biasanya memuncak menjelang Idul Fitri.
Target ini mencerminkan integritas sektor perbankan Indonesia yang tetap kokoh, serta peran LPS dalam menjaga kepercayaan nasabah sehingga bank memiliki ruang likuiditas yang cukup untuk menyalurkan kredit secara agresif namun tetap terukur.
Momentum Ramadhan 2026 dipandang sebagai katalisator penting bagi percepatan perputaran roda ekonomi nasional. Dengan target pertumbuhan 12%, perbankan diharapkan menjadi mesin utama yang menggerakkan daya beli masyarakat dan mendukung ekspansi dunia usaha di kuartal kedua tahun ini.
Pendorong Utama Pertumbuhan Kredit di Sektor Ritel dan Konsumsi
Target pertumbuhan 12% yang dicanangkan LPS sangat bergantung pada geliat belanja rumah tangga selama bulan suci. Sudut pandang ini menyoroti bahwa perbankan mulai bersiap memberikan berbagai stimulus pembiayaan, mulai dari kredit kendaraan bermotor hingga kredit tanpa agunan (KTA), guna menangkap peluang belanja masyarakat.
Pembiayaan Konsumsi: Kebutuhan akan dana segar untuk mudik, renovasi rumah, dan kebutuhan lebaran biasanya memicu kenaikan pengajuan kredit ritel.
Kepercayaan Nasabah: LPS memastikan bahwa simpanan masyarakat di bank aman, sehingga stabilitas dana pihak ketiga (DPK) tetap terjaga. Stabilitas ini memungkinkan bank untuk menyalurkan kredit dengan bunga yang tetap kompetitif bagi para debitur.
LPS memprediksi bahwa sektor perdagangan besar dan eceran akan menjadi penyerap kredit terbesar di masa Ramadhan ini, mengingat pelaku usaha perlu meningkatkan kapasitas persediaan (inventory) mereka untuk melayani lonjakan permintaan pasar.
Sektor Korporasi: Memacu Produksi Jelang Puncak Lebaran
Selain sektor ritel, target pertumbuhan 12% ini juga didukung oleh permintaan kredit dari sektor korporasi, khususnya industri pengolahan makanan, minuman, dan logistik. Perusahaan-perusahaan besar membutuhkan tambahan modal kerja untuk meningkatkan output produksi dan mendistribusikan barang ke seluruh pelosok negeri.
LPS mencatat bahwa perbankan saat ini memiliki rasio permodalan yang sangat mencukupi untuk melayani kebutuhan korporasi tersebut. Sinergi antara kebijakan moneter yang stabil dan jaminan keamanan simpanan dari LPS menciptakan ekosistem yang kondusif bagi perusahaan untuk mengambil ekspansi utang demi mengejar target penjualan tahunan. Pertumbuhan kredit korporasi di momentum Ramadhan ini akan memberikan kontribusi signifikan terhadap capaian target agregat perbankan nasional.
Peran LPS dalam Menjaga Likuiditas dan Stabilitas Sistem Perbankan
Di balik target pertumbuhan yang agresif ini, LPS menjalankan peran krusial sebagai penjaga gawang stabilitas sistem keuangan. Dengan tingkat penjaminan simpanan yang memadai, risiko bank run atau penarikan dana besar-besaran dapat diredam, sehingga bank tetap memiliki likuiditas yang stabil untuk disalurkan kembali sebagai kredit.
LPS secara kontinu melakukan pemantauan terhadap kesehatan bank agar pertumbuhan kredit sebesar 12% tersebut tidak mengabaikan prinsip kehati-hatian. Kualitas aset tetap menjadi perhatian utama guna mencegah lonjakan kredit bermasalah (Non-Performing Loan) pasca-Lebaran. Pertumbuhan yang sehat adalah pertumbuhan yang mampu diseimbangkan antara penyaluran dana ke masyarakat dengan manajemen risiko yang kuat, memastikan bahwa setiap rupiah yang dikreditkan memberikan nilai tambah bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.